Menurut gue itu judul emang engga nyambung, peliharaaan tanpa kecantikkan. Dimana-mana peliharaan engga ada yang cantik. Yeah, maksud gue tanpa kecantikan dalam kehidupan peliharaan gue.
Banyak hal tragis yang terjadi pada peliharaan gue dan berakhir meninggal dengan keadaan penyek tanpa keluar ‘sesuatu’ dari kloaka.
Ini terjadi waktu gue SD pada bayi burung yang dikasih tetangga gue. Karena bayi burung belom bisa terbang, gue takut dia dimakan tikus atau sejenisnya dialam liar sana, maksud gue di luar rumah. Maka, dia gue di taro keranjang dengan kain-kain dan gue letakkan di kamar mandi ortu. Gue pun menemani si dia, gue tidur dikamar ortu pula, tapi bukan dikamar mandi!
Pagi yang indah, gue bangun. Duduk, nengok kanan kiri bukan dengan maksud mau nyebrang tapi mau melihat kedaan. Gue malihat sesuatu hitam rata dan kaku. Hwaaaaa!! Burung pemberian penyek! PENYEK!! Gue angkat, bolak-balik apa yang sebenarnya terjadi? Gue kira dia ngajak main tipis-tipisan badan. Gue pura-pura mati. Burungnya juga engga bergerak. Gue kagetin, engga gerak juga! Gue pun tersadar itu burung gue lindes waktu gue tidur pake punggung gue. Tapi engga ada yang keluar dari belakang-nya. Atau tanpa sadar, waktu gue tidur, gue makan! Oh, tidak! Itu tidak mungkin. Gue mulai nangis. Kalo gue inget-inget masa itu gue merasa konyol ngapain gue nangis cuma gara-gara burung peyek? Bokap nemenin keluar kamar dan menguburnya. Engga perlu dalem-dalem dicangkulnya soalnya itu burung udah rata.
Pesan: Jangan tidur sama burung.
Engga cuma sampe situ. Berhari-hari kemudian, ade gue menemukan kucing kampung kecil yang pincang. Dibawa kedalem rumah, dikasih susu, kakinya pun di balut biar kakinya engga semakin parah.
Sorenya, ade-ade gue main benteng takeshi dengan melompati sepeda-sepeda yang dijejer. Pada awalnya semua berjalan lancar. Sampai akhirnya, kucing kampung itu bersantai dibawah sepeda yang dijejer. Waktu ade gue nglompatin sepeda, “BRUUUUK” sepeda jatoh dan si kucing ketindes! Gue yakin kucing punya sembilan nyawa. Maka gue masih ngliatin kucing yang sudah berbusa-busa, pup-nya keluar, gue biarin aja, berharap dia hidup segar kembali. Tetapi tidak. Berkahir dengan terbujur, bukan, tapi meringkuk kaku. Gali kuburan lagi.
Pesan: No Smoking! Lho?! Maksut gue, Jangan coba-coba main benteng takeshi sama kucing.
Ada lagi yang terjadi pada kura-kura. Gue dikasih kura-kura sama tetangga gue. Katanya sih itu kura-kura bintang. Ah, engga peduli mau kura-kura bintang, bulan, komet, meteor, bimasakti juga boleh. Berhari-hari dia hidup bersama tiga kura-kura gue yang sudah cukup besar di bath tub belakang rumah. Semua baik-baik saja. Sampai akhirnya dia ditemukan mengapung tak bergerak. Bau. Perkiraan gue dia digigit atau bisa ajah di serbu sama kura-kura yang lain.
Pesan: Jangan makan kura-kura bintang.
Oh, ya. Selain itu, sebelum ada kura-kura yang menempati bath tub ada banyak macam-macam ikan yang di peliahara di situ. Gue kira ikan adalah peliharaan yang mudah diurus. Tinggal kasih makan dan ganti air dia engga bakalan mati dengan cepat. Tapi, ade gue, waktu itu belom sekolah, malah ngasih vitamin ikan-ikan pake pemutih. PEMUTIHH!! PEMUTIH BAJUU!!
Blub. Blub. Blub. Keluar balon-balon dari mulutnya dan cairan merah. Tadinya gue kira itu adalah ucapan terima kasih mereka karena sudah di bleaching gratis. Beberapa saat kemudian, ikan-ikan terapung.
Pesan: Pemutih baju tidak cocok sebagai vitamin segala bentuk makhluk hidup. Tapi kalo lo lagi sebel sama seseorang kasih aja satu sendok dan bilang, “ini buat peninggi badan coba ajah. Manjur kok.” Tidak. Tidak. Jangan dicoba. Lo bawa-bawa sapu ajah dia pasti udah takut.
Banyak hal tragis yang terjadi pada peliharaan gue dan berakhir meninggal dengan keadaan penyek tanpa keluar ‘sesuatu’ dari kloaka.
Ini terjadi waktu gue SD pada bayi burung yang dikasih tetangga gue. Karena bayi burung belom bisa terbang, gue takut dia dimakan tikus atau sejenisnya dialam liar sana, maksud gue di luar rumah. Maka, dia gue di taro keranjang dengan kain-kain dan gue letakkan di kamar mandi ortu. Gue pun menemani si dia, gue tidur dikamar ortu pula, tapi bukan dikamar mandi!
Pagi yang indah, gue bangun. Duduk, nengok kanan kiri bukan dengan maksud mau nyebrang tapi mau melihat kedaan. Gue malihat sesuatu hitam rata dan kaku. Hwaaaaa!! Burung pemberian penyek! PENYEK!! Gue angkat, bolak-balik apa yang sebenarnya terjadi? Gue kira dia ngajak main tipis-tipisan badan. Gue pura-pura mati. Burungnya juga engga bergerak. Gue kagetin, engga gerak juga! Gue pun tersadar itu burung gue lindes waktu gue tidur pake punggung gue. Tapi engga ada yang keluar dari belakang-nya. Atau tanpa sadar, waktu gue tidur, gue makan! Oh, tidak! Itu tidak mungkin. Gue mulai nangis. Kalo gue inget-inget masa itu gue merasa konyol ngapain gue nangis cuma gara-gara burung peyek? Bokap nemenin keluar kamar dan menguburnya. Engga perlu dalem-dalem dicangkulnya soalnya itu burung udah rata.
Pesan: Jangan tidur sama burung.
Engga cuma sampe situ. Berhari-hari kemudian, ade gue menemukan kucing kampung kecil yang pincang. Dibawa kedalem rumah, dikasih susu, kakinya pun di balut biar kakinya engga semakin parah.
Sorenya, ade-ade gue main benteng takeshi dengan melompati sepeda-sepeda yang dijejer. Pada awalnya semua berjalan lancar. Sampai akhirnya, kucing kampung itu bersantai dibawah sepeda yang dijejer. Waktu ade gue nglompatin sepeda, “BRUUUUK” sepeda jatoh dan si kucing ketindes! Gue yakin kucing punya sembilan nyawa. Maka gue masih ngliatin kucing yang sudah berbusa-busa, pup-nya keluar, gue biarin aja, berharap dia hidup segar kembali. Tetapi tidak. Berkahir dengan terbujur, bukan, tapi meringkuk kaku. Gali kuburan lagi.
Pesan: No Smoking! Lho?! Maksut gue, Jangan coba-coba main benteng takeshi sama kucing.
Ada lagi yang terjadi pada kura-kura. Gue dikasih kura-kura sama tetangga gue. Katanya sih itu kura-kura bintang. Ah, engga peduli mau kura-kura bintang, bulan, komet, meteor, bimasakti juga boleh. Berhari-hari dia hidup bersama tiga kura-kura gue yang sudah cukup besar di bath tub belakang rumah. Semua baik-baik saja. Sampai akhirnya dia ditemukan mengapung tak bergerak. Bau. Perkiraan gue dia digigit atau bisa ajah di serbu sama kura-kura yang lain.
Pesan: Jangan makan kura-kura bintang.
Oh, ya. Selain itu, sebelum ada kura-kura yang menempati bath tub ada banyak macam-macam ikan yang di peliahara di situ. Gue kira ikan adalah peliharaan yang mudah diurus. Tinggal kasih makan dan ganti air dia engga bakalan mati dengan cepat. Tapi, ade gue, waktu itu belom sekolah, malah ngasih vitamin ikan-ikan pake pemutih. PEMUTIHH!! PEMUTIH BAJUU!!
Blub. Blub. Blub. Keluar balon-balon dari mulutnya dan cairan merah. Tadinya gue kira itu adalah ucapan terima kasih mereka karena sudah di bleaching gratis. Beberapa saat kemudian, ikan-ikan terapung.
Pesan: Pemutih baju tidak cocok sebagai vitamin segala bentuk makhluk hidup. Tapi kalo lo lagi sebel sama seseorang kasih aja satu sendok dan bilang, “ini buat peninggi badan coba ajah. Manjur kok.” Tidak. Tidak. Jangan dicoba. Lo bawa-bawa sapu ajah dia pasti udah takut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar